Mengapa harus malu?,
Seperti
biasa, pertemuan tidak disengaja sebenarnya memang selalu melebarkan senyuman
atau seperti biasa, pertemuan yang tidak disengaja membuat raut wajah tidak
terkontrol, menampilkan ekspresi jelek dan wajah memerah karena malu.
Pagi
itu, seperti biasa, aku berangkat sekolah pukul 06.30 karena hari itu hari
senin, jadi sedikit lebih pagi, sedikit. Debu masih tidak terlihat jika dipagi
hari, mereka mengkristal, udara pagi yang bersemangat menyambutku pagi ini.
jalanan macet, “sialan” kataku. Lalu aku menggulung tarikkan sarung tanganku
sebelah kanan dengan menggunakan mulutku karena tangan kiri sibuk menyetir,
tiba-tiba terlihat seseorang memperhatikanku dari arah depan, aku tahu dia
siapa. Aku melihat ke arahnya dengan tatapan lebih dari 8 detik, berarti aku
lebih menyukainya, jelas saja dia Yusi, perempuan yang tidak pernah hilang
dalam ingatanku selama 2 tahun terakhir. Dari arah berlawanan dia sekejap
melihatku, Aku terus melihatnya, tapi tidak apa yang dilakukannya, dia langsung
memalingkan wajahnya kearah samping yang berlainan, mengapa yus? Mengapa kamu
memalingkan wajahmu? Mengapa? Apa kau malu? Mengapa
harus malu? Tidak bisakah kita saling bertatapan selama 5 detik saja dengan
memperlihatkan senyuman antara kita? Aku rindu saat-saat itu yus, selalu
merindukannya.
Dari
depan, ke kanan, lalu ke belakang, mataku mengajar sosok itu yang akhirnya
berlalu meninggalkan belakang. Arah menjadi pembatas pertemuan kami, karena
kami sedang berkendara diarah yang berlawanan hingga kami tidak bisa lama-lama
melewati pertemuan yang tidak disengaja itu, tunggu! Kami? Tidak salah:? Jangan
sebut kami, jangan pula sebut kita, karena aku dan kamu kan tidak ada apa-apa,
maafkan aku yang selalu berharap-_-
Apa
kau sudah lupa semuanya yus? |Tunggu! Semuanya? Memang pernah ada apa diantara
kita?| lagi-lagi maafkan aku yus, yang lagi-lagi membuat cerita didalam
khayalanku yang entah darimana asalnya. Tapi, mengapa tadi kau palingkan
wajahmu? Tidak sudi kah kau kulihat sekejap saja? Ingin sekali menyapa, tapi tidak tahu mengapa rasanya mulut ini
terasa berat sekali jika berkata didepanmu. Aku masih belum bisa melupakanmu
yus, maaflan aku!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar