Jumat, 06 Februari 2015

Mengapa harus malu?


Mengapa harus malu?,
Seperti biasa, pertemuan tidak disengaja sebenarnya memang selalu melebarkan senyuman atau seperti biasa, pertemuan yang tidak disengaja membuat raut wajah tidak terkontrol, menampilkan ekspresi jelek dan wajah memerah karena malu.
Pagi itu, seperti biasa, aku berangkat sekolah pukul 06.30 karena hari itu hari senin, jadi sedikit lebih pagi, sedikit. Debu masih tidak terlihat jika dipagi hari, mereka mengkristal, udara pagi yang bersemangat menyambutku pagi ini. jalanan macet, “sialan” kataku. Lalu aku menggulung tarikkan sarung tanganku sebelah kanan dengan menggunakan mulutku karena tangan kiri sibuk menyetir, tiba-tiba terlihat seseorang memperhatikanku dari arah depan, aku tahu dia siapa. Aku melihat ke arahnya dengan tatapan lebih dari 8 detik, berarti aku lebih menyukainya, jelas saja dia Yusi, perempuan yang tidak pernah hilang dalam ingatanku selama 2 tahun terakhir. Dari arah berlawanan dia sekejap melihatku, Aku terus melihatnya, tapi tidak apa yang dilakukannya, dia langsung memalingkan wajahnya kearah samping yang berlainan, mengapa yus? Mengapa kamu memalingkan wajahmu? Mengapa? Apa kau malu? Mengapa harus malu? Tidak bisakah kita saling bertatapan selama 5 detik saja dengan memperlihatkan senyuman antara kita? Aku rindu saat-saat itu yus, selalu merindukannya.
Dari depan, ke kanan, lalu ke belakang, mataku mengajar sosok itu yang akhirnya berlalu meninggalkan belakang. Arah menjadi pembatas pertemuan kami, karena kami sedang berkendara diarah yang berlawanan hingga kami tidak bisa lama-lama melewati pertemuan yang tidak disengaja itu, tunggu! Kami? Tidak salah:? Jangan sebut kami, jangan pula sebut kita, karena aku dan kamu kan tidak ada apa-apa, maafkan aku yang selalu berharap-_-
Apa kau sudah lupa semuanya yus? |Tunggu! Semuanya? Memang pernah ada apa diantara kita?| lagi-lagi maafkan aku yus, yang lagi-lagi membuat cerita didalam khayalanku yang entah darimana asalnya. Tapi, mengapa tadi kau palingkan wajahmu? Tidak sudi kah kau kulihat sekejap saja?  Ingin sekali menyapa,  tapi tidak tahu mengapa rasanya mulut ini terasa berat sekali jika berkata didepanmu. Aku masih belum bisa melupakanmu yus, maaflan aku!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar