Dasar manja, cengeng, jelek ! awalnya laki-laki itu menyebut salah
seorang teman perempuannya seperti itu, “awalnya”. setiap manusia didunia pasti
mempunyai rasa humor, meskipun sedikit, iya laki-laki itu salah satunya. Ketika
rasa humor tersebut melanggar aturan-aturan tertentu, yaitu aturan asmara.
Laki-laki itu salah mempergunakannya, yang akhirnya menjadi sebuah permainan
asmara yang meriuhkan teman-temannya. “dasar” kata laki-laki itu. “ngedukung
banget ih” perempuan itu melanjutkannya diwaktu yang tak sama. Kelas di sekolah
menjadi ajang pendekatan laki-laki itu kepada si perempuan yang telah mengajak
laki-laki itu bermimpi. Duduk didepannya setalah satu bangku menjadi penyekat
kenakalan rayuan, perempuan itu duduk dibaris paling pinggir meja kedua,
sedangkan laki-laki itu, duduk dibaris yang sama, meja keempat paling akhir,
sengaja laki-laki itu memang sering berkhayal yang orang lain tidak bisa
menerkanya, jadi duduk paling belakang agar teman-temannya tidak bisa
memperhatikan dia, walau tak sengaja. laki-laki yang selalu menjadikan lamunan
menjadi sebuah perjalanan. Itu sebabnya, dalam kehidupan laki-laki itu selalu
dipenuhi bahasa-bahasa khayal dan bahasa-bahasa yang fiksi dalam sebuah
kehidupan, karena kehidupan adalah pertarungan yang tidak pernah berhenti. “de
kapan putus?” dengan polos, laki-laki itu selalu mengatakan hal yang tidak
sopan jika keluar untuk disampaikan kepada seorang perempuan, laki-laki itu
memang sedikit gila bila dibandingkan orang-orang gila yang mati bunuh diri
karena cinta. Meskipun, “awalnya” perempuan itu sangat membenci laki-laki itu,
“dasar laki-laki yang suka merendahkan orang lain, laki-laki yang so, laki laki
yang angkuh”. Memang, kata “awalnya” selalu menjadi bahasan yang merumitkan
tapi menyenangkan. “awalnya” laki-laki itu juga sama sekali tidak ada sedikitpun
perasaan suka, kendati perempuan itu membencinya, laki-laki itu malah bersikap
so dewasa, tenang, polos, dan angkuh, satu lagi, ga tau malu. hanya satu yang disukai si perempuan dari laki-laki
itu, “tertawanya”.
Hari demi hari terlewati, pelajaran tetap
menjadi sesuatu yang menyeramkan bila dikerjakan, belajar, ujian semuanya
membosankan. Apalagi jika harus merangkum bab pelajaran, rasanya seperti
divonis 3 tahun penjara, terkekang, terikat, jika terikatnya dengan perempuan
itu tentu tidak akan menjadi masalah, karena disaat-saat itu, laki-laki itu
menyadari bahwa perempuan yang menurutnya selalu menjadi pemeran utama dikelas
dimatanya itu ternyata sangat cantik, benar-benar-benar cantik, menangispun
juga cantik. Suatu ajakan nakal terurai mesra ditelinganya “de hayu nonton”.
Nakal karena mengajak main seorang perempuan yang sudah mempunyai kekasih.
Tidak peduli ! kata laki-laki itu. Tetap saja, laki-laki itu terus
mengusilinya, mengerjainya, dan merayunya, sampai-sampai mulai menyukainya~.
Sampai akhirnya “de jemput jam 3 sama saya”. Kata-kata nakal itu terus
menghujani diri perempuan itu, dia bingung, apa yang sedang laki-laki itu
pikirkan sehingga mengajaknya nonton. “aneh”. Ketika lampu bioskop tertutup
rapat, layar monitor menjadi penerang tunggal, saat-saat itu, saat-saat dimana,
perasaan suka dipaksa untuk datang menemani keduanya. Laki-laki itu dan
perempuan itu, bagaikan sepasang kekasih baru yang baru menginjak minggu kedua,
indahnya, nyamannya, asiknya, mesranya, dan kedekatanya terekam jelas dihari
itu, hari itu, hari-hari itu. Entah darimana kepalan kedua tangan mereka saling
bersatu, dari kapan mulainya ketika jari-jari mereka berdampingan ditemani
dinginnya ac yang dihangatkan oleh kepalan itu, tidak ada perasaan yang lain selain
perasaan “tidak menyangka”. Pelukan dari belakang memang tidak sehangat pelukan
dari depan, namun pelukan dari belakang pertama itulah yang membuat jantung
laki-laki itu berdegup kencang. Langit sekitar yang sudah mulai berubah warna
menjadi gelap menjadi latar yang tak terpisahkan dalam cerita dihari itu,
benar-benar tidak disangka.
Seperti yang pernah disebutkan, laki-laki itu
memang gila, dia mengajak temannya itu main tanpa sepengetahuan kekasih perempuan itu, jika kekasihnya tahu, akan
disimpan dimana wajah laki-laki itu, padahal kekasihnya adalah temannya
terdahulu saat masih kelas awal. Itu tidak dianggap sebagai penghalang untuk
laki-laki itu mendekatinya, berusaha memasuki kehidupan perempuan itu, mencoba
mengambil celah ruang yang kosong dihati perempuan itu. Ketika seorang anak
laki-laki mulai menyukai seorang perempuan dikelasnya, tentu menjadi sorotan
menarik para teman-temannya untuk mempertanyakan gosip yang beredar itu, dalam
ajang permainan jujur berani, laki-laki itu menerima tawaran untuk jujur,
ketika ditanya “siapa yang menurut kamu paling spesial dikelas?” dengan segala
rasa yang ada anak laki-laki itu menjawab “***” diikuti suaru kagum dari
orang-orang disekelilingnya. Anak perempuan itu tersenyum manis, senyuman yang
paling disukai oleh laki-laki itu. Kedekatan yang semakin tergambar jelas
semakin hari semakin memperlihatkan kemesraan antara anak laki-laki dan anak
perempuan tersebut, fix, laki-laki itu menyukainya, dan perempuan itu masih
meraba-raba. Tidak seperti tes, setiap soal yang rumit pasti ada jawabannya.
Namun mengejar seorang anak perempuan bukanlah mengejar nilai agar bagus,
bukan, bukan itu. Untuk mengejar seorang anak perempuan, adalah bagaimana ia
harus meluangkan waktunya hanya untuk melindungi dan mempedulikannya. “de,
kapan putus?” . “maunya kapan?” perempuan itu mulai merespon kehendak si
laki-laki itu, namun laki-laki itu tidak tahu, bahwa pertanyaannya adalah
senjata makan tuannya. Pertanyaan itu seakan-akan mendesak diri perempuan itu
untuk memilih, untuk menentukan, untuk percaya, kemana perempuan itu harus
berlabuh. Tentu itu adalah sesuatu yang merugikan tempat laki-laki tersebut,
dimana ia adalah orang ketiga dalam sebuah hubungan, bukan pemeran utama,
pemeran utamanya adalah dia, kekasih dari perempuan itu.
Banyak momen dimana laki-laki itu merasakan
kehangatan dan kelembutan suatu hubungan “berpacaran”. Ya, anak laki-laki itu
telah bisa disebut merebut kebahagiaan seseorang, seseorang yang tidak
mengetahui apa-apa, sebetulnya. mereka berselingkuh.
Hari selanjutnya 2 minggu kemudian, masih
dalam skenario yang sama, anak laki-laki masih berjuang keras membuktikan bahwa
ia benar-benar tulus, mencinta. Namun perempuan itu tetap saja belum bisa
mempercayainya, disisi lain anak perempuan tersebut juga menaruh kasih terhadap
anak laki-laki itu, yang sebelumnya adalah orang yang sangat dibencinya
dikelas. Karena disisi lain anak perempuan itu sudah mulai lelah dengan
pengertian kekasihnya yang sudah hilang, sirna, terbawa arah entah kemana, anak
perempuan itu merasa beruntung ketika ada orang yang mengasihi dan
menyayanginya, yaitu, anak laki-laki tersebut. Ketika senyuman-senyuman nakal
nampak dari kedua anak muda itu, ketika teman penyekat meja menjadi operator
surat anak perempuan dan anak laki-laki itu. Saat-saat dimana anak laki-laki
itu menemukan kembali cintanya, ya, cintanya. Penungguan yang sebenarnya baru
akan dimulai, anak laki-laki itu masih tetap berusaha dengan ketakutan tidak
akan berhasilnya proses pengejaran atau penungguan ini.
Ulangan Akhir Semester,
sangat membosankan, padahal anak laki-laki itu
adalah sosok yang mempunyai tugas khusus disekolahnya, tapi perilakunya tidak
patut dicontoh bila sedang ujian. Hubungan anak laki-laki itu dengan anak
perempuan itu masih terjaga hingga hari pertama ujian berlangsung. Beruntung,
anak laki-laki itu masih satu ruangan dengan anak perempuan itu, sialnya, mereka
berdua harus satu ruangan dengan seseorang yang sebetulnya adalah pemeran inti
dari kisah anak perempuan itu, ya pacar dari anak perempuan itu dan teman yang
sudah dikhianati anak laki-laki itu. Tentu kedekatan anak laki-laki dan anak
perempuan itu kini menjadi renggang, karena laki-laki itu mulai menjaga sikap
peduli dan sikap menyapa yang memakai kasih sayang yang biasanya dilakukan
kepada anak perempuan itu, tapi kini harus terhalang, karena ada sang kekasih
dari anak perempuan itu. Melihat orang yang disukainya tertera oleh mata sedang
bersama kekasihnya, rasanya itu seperti ingin memarahi seseorang tetapi tidak
tahu apa yang akan dimarahi, dan kepada siapa ia ingin melampiaskan
kemarahannya. Perasaan aneh yang tidak bisa diungkapkan keanehan itu berasal.
Semua peduli, perhatian, dan canda tawa anak laki-laki itu hilang selama satu
minggu mengerjakan soal Ulangan Akhir Semester I, yang tampak hanya kekesalan,
ketidak ingin tahuan akan sebuah kenyataan, ketidaktahuan adanya realita, dan
ketidaktahuan harus berjalan kearah yang mana, dan yang terakhir anak laki-laki
itu mengetahui seperti apa perasaan merelakan. Merelakan salah seorang
perempuan yang telah dicintainya kepada seseorang yang telah lebih dahulu
mencintainya. Anak laki-laki itu mundur dari penungguan yang telah dia tekuni
selama beberapa minggu, anak laki-laki itu merasa bersalah telah berusaha
mengajak agar anak perempuan itu menerima kasih sayangnya, anak laki-laki itu
merelakan anak perempuan itu kembali bersama kekasih sebenarnya, walaunperih,
benar-benar perih. Anak perempuan itu tidak mengerti, mengapa anak laki-laki
itu langsung mundur, menyerah hanya karena hal yang sebetulnya tidak harus
menjadi alasan, namun anak laki-laki itu menyimpan sebuah rahasia, yang tidak
diketahui oleh anak perempuan itu, yaitu rahasia bahwa sang kekasih dari anak
perempuan itu pernah mengatakan sesuatu kepada anak laki-laki yang dalam
pikirannya telah berusaha menggantikan sosoknya dari anak perempuan itu. Lalu
anak laki-laki itu berpikir, apa makna yang sebenarnya diucapkan oleh kekasih dari
anak perempuan itu, setelah lama menganalogikan suatu perkataan, anak laki-laki
itu sadar dan mengambil keputusan untuk Mundur. Dengan logika yang tidak dapat
diterka oleh teman-temannya, anak laki-laki itu bercerita, dan akan membuat
anak perempuan yang sebelumnya sangat disayanginya, diperhatikannya,
dipedulikannnya, dikasihinya, akan dibuat membencinya, tentu ini bukanlah
keputusan logika yang akan menyenangkan anak laki-laki itu, dan “oke aku
lakuin” anak perempuan itu menambahkan setelah obrolan itu ternyata terdengar
ditelinganya. Demikianlah perempuan mengekdpresikan dirinya dengan dekat sangat
dekat kembali bersama pacarnya dihari-hari dimana hari bebas bersekolah
dimulai, yang selalu dinamakan agenda kegiatan porseni yang kebetulan anak
laki-laki adalah seorang ketua dari organisasi yang mengurusi agenda kegiatan
itu. Disetiap kesibukannya yang dilakukan anak laki-laki itu selalu melihat
anak perempuan itu sedang bermesraan diantara banyak orang bersama kekasihnya,
anak laki-laki kembali dan lagi-lagi selalu melihat anak perempuan itu sedang
bergandengan dan sedang berdua dalam hangat bersama kekasihnya, inilah
kekejaman realita yang dialami oleh anak laki-laki itu. Dari satu waktu,
kembali dan lagi anak laki-laki itu melihat anak perempuan bersama kekasihnya,
karena sedang bertugas, jalan yang harus dilalui pun harus melewati mereka,
mereka, mereka. Anak laki-laki itu harus berpermisi kepada mereka berdua yang
berada diantara jalan yang harus dilalui, ingin berjalan dihadapan anak
perempuan itu saja anak laki-laki itu harus berdoa terlebih dahulu, ia berdoa
agar diberi kekuatan, dan diberi kesanggupan untuk menerima kenyataan itu, dan
menerima keputusan salah yang pernah dicetuskannya. Dan ternyata dia berhasil
melangkah melewati anak perempuan itu bersama kekasihnya dengan perasaan yang
hancur dan berantakan, penuh kesakitan, sangat menyakitkan.Lalu setelah kembali,
dia melihat didepannya, ketika sang kekasih dari anak perempuan itu sedang
memeluk dan menekuk lengannya kedalam antara pundak dan leher anak perempuan
itu, terlihat jelas dari depan dan membelakangi apa yang dilihatnya, anak
laki-laki hancur ditempat, perasaannya gugur sudah, anak laki-laki sangat patah
hati, dan mengalihkan langkahnya dengan berjalan berputar agar tida
menghempaskan angin diantara keduanya yang sedang bermesraan, ini sungguh
menyakitkan, apa yang telah anak laki-laki itu lihat dan apa yang telah ia
rasakan.
Kegiatan itu berlangsung 4 hari, dan 4 hari itu adalah
4 hari yang telah membuat anak laki-laki itu hancur merasakan patah hati yang sangat dalam sangat
mengkristal sepeti debu. Lalu dalam sebuah ikrar kesan yang dibuat teman-teman
dari anak laki-laki itu, anak laki-laki itu menuliskan sebuah kata yang
menggambarkan kenyataan perasaannya. “terimakasih semuanya, terimakasih sudah
menemani kegiatan selama 4 hari ini, 4 hari yang bikin galau, dan penuh
kelemahan seorang anak laki-laki yang bernama ****”.