Selasa, 08 Desember 2015

November-Desember 2013

Dasar manja, cengeng,  jelek ! awalnya laki-laki itu menyebut salah seorang teman perempuannya seperti itu, “awalnya”. setiap manusia didunia pasti mempunyai rasa humor, meskipun sedikit, iya laki-laki itu salah satunya. Ketika rasa humor tersebut melanggar aturan-aturan tertentu, yaitu aturan asmara. Laki-laki itu salah mempergunakannya, yang akhirnya menjadi sebuah permainan asmara yang meriuhkan teman-temannya. “dasar” kata laki-laki itu. “ngedukung banget ih” perempuan itu melanjutkannya diwaktu yang tak sama. Kelas di sekolah menjadi ajang pendekatan laki-laki itu kepada si perempuan yang telah mengajak laki-laki itu bermimpi. Duduk didepannya setalah satu bangku menjadi penyekat kenakalan rayuan, perempuan itu duduk dibaris paling pinggir meja kedua, sedangkan laki-laki itu, duduk dibaris yang sama, meja keempat paling akhir, sengaja laki-laki itu memang sering berkhayal yang orang lain tidak bisa menerkanya, jadi duduk paling belakang agar teman-temannya tidak bisa memperhatikan dia, walau tak sengaja. laki-laki yang selalu menjadikan lamunan menjadi sebuah perjalanan. Itu sebabnya, dalam kehidupan laki-laki itu selalu dipenuhi bahasa-bahasa khayal dan bahasa-bahasa yang fiksi dalam sebuah kehidupan, karena kehidupan adalah pertarungan yang tidak pernah berhenti. “de kapan putus?” dengan polos, laki-laki itu selalu mengatakan hal yang tidak sopan jika keluar untuk disampaikan kepada seorang perempuan, laki-laki itu memang sedikit gila bila dibandingkan orang-orang gila yang mati bunuh diri karena cinta. Meskipun, “awalnya” perempuan itu sangat membenci laki-laki itu, “dasar laki-laki yang suka merendahkan orang lain, laki-laki yang so, laki laki yang angkuh”. Memang, kata “awalnya” selalu menjadi bahasan yang merumitkan tapi menyenangkan. “awalnya” laki-laki itu juga sama sekali tidak ada sedikitpun perasaan suka, kendati perempuan itu membencinya, laki-laki itu malah bersikap so dewasa, tenang, polos, dan angkuh, satu lagi, ga tau malu. hanya satu yang disukai si perempuan dari laki-laki itu, “tertawanya”.
Hari demi hari terlewati, pelajaran tetap menjadi sesuatu yang menyeramkan bila dikerjakan, belajar, ujian semuanya membosankan. Apalagi jika harus merangkum bab pelajaran, rasanya seperti divonis 3 tahun penjara, terkekang, terikat, jika terikatnya dengan perempuan itu tentu tidak akan menjadi masalah, karena disaat-saat itu, laki-laki itu menyadari bahwa perempuan yang menurutnya selalu menjadi pemeran utama dikelas dimatanya itu ternyata sangat cantik, benar-benar-benar cantik, menangispun juga cantik. Suatu ajakan nakal terurai mesra ditelinganya “de hayu nonton”. Nakal karena mengajak main seorang perempuan yang sudah mempunyai kekasih. Tidak peduli ! kata laki-laki itu. Tetap saja, laki-laki itu terus mengusilinya, mengerjainya, dan merayunya, sampai-sampai mulai menyukainya~. Sampai akhirnya “de jemput jam 3 sama saya”. Kata-kata nakal itu terus menghujani diri perempuan itu, dia bingung, apa yang sedang laki-laki itu pikirkan sehingga mengajaknya nonton. “aneh”. Ketika lampu bioskop tertutup rapat, layar monitor menjadi penerang tunggal, saat-saat itu, saat-saat dimana, perasaan suka dipaksa untuk datang menemani keduanya. Laki-laki itu dan perempuan itu, bagaikan sepasang kekasih baru yang baru menginjak minggu kedua, indahnya, nyamannya, asiknya, mesranya, dan kedekatanya terekam jelas dihari itu, hari itu, hari-hari itu. Entah darimana kepalan kedua tangan mereka saling bersatu, dari kapan mulainya ketika jari-jari mereka berdampingan ditemani dinginnya ac yang dihangatkan oleh kepalan itu, tidak ada perasaan yang lain selain perasaan “tidak menyangka”. Pelukan dari belakang memang tidak sehangat pelukan dari depan, namun pelukan dari belakang pertama itulah yang membuat jantung laki-laki itu berdegup kencang. Langit sekitar yang sudah mulai berubah warna menjadi gelap menjadi latar yang tak terpisahkan dalam cerita dihari itu, benar-benar tidak disangka.
Seperti yang pernah disebutkan, laki-laki itu memang gila, dia mengajak temannya itu main tanpa sepengetahuan kekasih  perempuan itu, jika kekasihnya tahu, akan disimpan dimana wajah laki-laki itu, padahal kekasihnya adalah temannya terdahulu saat masih kelas awal. Itu tidak dianggap sebagai penghalang untuk laki-laki itu mendekatinya, berusaha memasuki kehidupan perempuan itu, mencoba mengambil celah ruang yang kosong dihati perempuan itu. Ketika seorang anak laki-laki mulai menyukai seorang perempuan dikelasnya, tentu menjadi sorotan menarik para teman-temannya untuk mempertanyakan gosip yang beredar itu, dalam ajang permainan jujur berani, laki-laki itu menerima tawaran untuk jujur, ketika ditanya “siapa yang menurut kamu paling spesial dikelas?” dengan segala rasa yang ada anak laki-laki itu menjawab “***” diikuti suaru kagum dari orang-orang disekelilingnya. Anak perempuan itu tersenyum manis, senyuman yang paling disukai oleh laki-laki itu. Kedekatan yang semakin tergambar jelas semakin hari semakin memperlihatkan kemesraan antara anak laki-laki dan anak perempuan tersebut, fix, laki-laki itu menyukainya, dan perempuan itu masih meraba-raba. Tidak seperti tes, setiap soal yang rumit pasti ada jawabannya. Namun mengejar seorang anak perempuan bukanlah mengejar nilai agar bagus, bukan, bukan itu. Untuk mengejar seorang anak perempuan, adalah bagaimana ia harus meluangkan waktunya hanya untuk melindungi dan mempedulikannya. “de, kapan putus?” . “maunya kapan?” perempuan itu mulai merespon kehendak si laki-laki itu, namun laki-laki itu tidak tahu, bahwa pertanyaannya adalah senjata makan tuannya. Pertanyaan itu seakan-akan mendesak diri perempuan itu untuk memilih, untuk menentukan, untuk percaya, kemana perempuan itu harus berlabuh. Tentu itu adalah sesuatu yang merugikan tempat laki-laki tersebut, dimana ia adalah orang ketiga dalam sebuah hubungan, bukan pemeran utama, pemeran utamanya adalah dia, kekasih dari perempuan itu.
Banyak momen dimana laki-laki itu merasakan kehangatan dan kelembutan suatu hubungan “berpacaran”. Ya, anak laki-laki itu telah bisa disebut merebut kebahagiaan seseorang, seseorang yang tidak mengetahui apa-apa, sebetulnya. mereka berselingkuh.
Hari selanjutnya 2 minggu kemudian, masih dalam skenario yang sama, anak laki-laki masih berjuang keras membuktikan bahwa ia benar-benar tulus, mencinta. Namun perempuan itu tetap saja belum bisa mempercayainya, disisi lain anak perempuan tersebut juga menaruh kasih terhadap anak laki-laki itu, yang sebelumnya adalah orang yang sangat dibencinya dikelas. Karena disisi lain anak perempuan itu sudah mulai lelah dengan pengertian kekasihnya yang sudah hilang, sirna, terbawa arah entah kemana, anak perempuan itu merasa beruntung ketika ada orang yang mengasihi dan menyayanginya, yaitu, anak laki-laki tersebut. Ketika senyuman-senyuman nakal nampak dari kedua anak muda itu, ketika teman penyekat meja menjadi operator surat anak perempuan dan anak laki-laki itu. Saat-saat dimana anak laki-laki itu menemukan kembali cintanya, ya, cintanya. Penungguan yang sebenarnya baru akan dimulai, anak laki-laki itu masih tetap berusaha dengan ketakutan tidak akan berhasilnya proses pengejaran atau penungguan ini.
Ulangan Akhir Semester,
sangat membosankan, padahal anak laki-laki itu adalah sosok yang mempunyai tugas khusus disekolahnya, tapi perilakunya tidak patut dicontoh bila sedang ujian. Hubungan anak laki-laki itu dengan anak perempuan itu masih terjaga hingga hari pertama ujian berlangsung. Beruntung, anak laki-laki itu masih satu ruangan dengan anak perempuan itu, sialnya, mereka berdua harus satu ruangan dengan seseorang yang sebetulnya adalah pemeran inti dari kisah anak perempuan itu, ya pacar dari anak perempuan itu dan teman yang sudah dikhianati anak laki-laki itu. Tentu kedekatan anak laki-laki dan anak perempuan itu kini menjadi renggang, karena laki-laki itu mulai menjaga sikap peduli dan sikap menyapa yang memakai kasih sayang yang biasanya dilakukan kepada anak perempuan itu, tapi kini harus terhalang, karena ada sang kekasih dari anak perempuan itu. Melihat orang yang disukainya tertera oleh mata sedang bersama kekasihnya, rasanya itu seperti ingin memarahi seseorang tetapi tidak tahu apa yang akan dimarahi, dan kepada siapa ia ingin melampiaskan kemarahannya. Perasaan aneh yang tidak bisa diungkapkan keanehan itu berasal. Semua peduli, perhatian, dan canda tawa anak laki-laki itu hilang selama satu minggu mengerjakan soal Ulangan Akhir Semester I, yang tampak hanya kekesalan, ketidak ingin tahuan akan sebuah kenyataan, ketidaktahuan adanya realita, dan ketidaktahuan harus berjalan kearah yang mana, dan yang terakhir anak laki-laki itu mengetahui seperti apa perasaan merelakan. Merelakan salah seorang perempuan yang telah dicintainya kepada seseorang yang telah lebih dahulu mencintainya. Anak laki-laki itu mundur dari penungguan yang telah dia tekuni selama beberapa minggu, anak laki-laki itu merasa bersalah telah berusaha mengajak agar anak perempuan itu menerima kasih sayangnya, anak laki-laki itu merelakan anak perempuan itu kembali bersama kekasih sebenarnya, walaunperih, benar-benar perih. Anak perempuan itu tidak mengerti, mengapa anak laki-laki itu langsung mundur, menyerah hanya karena hal yang sebetulnya tidak harus menjadi alasan, namun anak laki-laki itu menyimpan sebuah rahasia, yang tidak diketahui oleh anak perempuan itu, yaitu rahasia bahwa sang kekasih dari anak perempuan itu pernah mengatakan sesuatu kepada anak laki-laki yang dalam pikirannya telah berusaha menggantikan sosoknya dari anak perempuan itu. Lalu anak laki-laki itu berpikir, apa makna yang sebenarnya diucapkan oleh kekasih dari anak perempuan itu, setelah lama menganalogikan suatu perkataan, anak laki-laki itu sadar dan mengambil keputusan untuk Mundur. Dengan logika yang tidak dapat diterka oleh teman-temannya, anak laki-laki itu bercerita, dan akan membuat anak perempuan yang sebelumnya sangat disayanginya, diperhatikannya, dipedulikannnya, dikasihinya, akan dibuat membencinya, tentu ini bukanlah keputusan logika yang akan menyenangkan anak laki-laki itu, dan “oke aku lakuin” anak perempuan itu menambahkan setelah obrolan itu ternyata terdengar ditelinganya. Demikianlah perempuan mengekdpresikan dirinya dengan dekat sangat dekat kembali bersama pacarnya dihari-hari dimana hari bebas bersekolah dimulai, yang selalu dinamakan agenda kegiatan porseni yang kebetulan anak laki-laki adalah seorang ketua dari organisasi yang mengurusi agenda kegiatan itu. Disetiap kesibukannya yang dilakukan anak laki-laki itu selalu melihat anak perempuan itu sedang bermesraan diantara banyak orang bersama kekasihnya, anak laki-laki kembali dan lagi-lagi selalu melihat anak perempuan itu sedang bergandengan dan sedang berdua dalam hangat bersama kekasihnya, inilah kekejaman realita yang dialami oleh anak laki-laki itu. Dari satu waktu, kembali dan lagi anak laki-laki itu melihat anak perempuan bersama kekasihnya, karena sedang bertugas, jalan yang harus dilalui pun harus melewati mereka, mereka, mereka. Anak laki-laki itu harus berpermisi kepada mereka berdua yang berada diantara jalan yang harus dilalui, ingin berjalan dihadapan anak perempuan itu saja anak laki-laki itu harus berdoa terlebih dahulu, ia berdoa agar diberi kekuatan, dan diberi kesanggupan untuk menerima kenyataan itu, dan menerima keputusan salah yang pernah dicetuskannya. Dan ternyata dia berhasil melangkah melewati anak perempuan itu bersama kekasihnya dengan perasaan yang hancur dan berantakan, penuh kesakitan, sangat menyakitkan.Lalu setelah kembali, dia melihat didepannya, ketika sang kekasih dari anak perempuan itu sedang memeluk dan menekuk lengannya kedalam antara pundak dan leher anak perempuan itu, terlihat jelas dari depan dan membelakangi apa yang dilihatnya, anak laki-laki hancur ditempat, perasaannya gugur sudah, anak laki-laki sangat patah hati, dan mengalihkan langkahnya dengan berjalan berputar agar tida menghempaskan angin diantara keduanya yang sedang bermesraan, ini sungguh menyakitkan, apa yang telah anak laki-laki itu lihat dan apa yang telah ia rasakan.

Kegiatan  itu berlangsung 4 hari, dan 4 hari itu adalah 4 hari yang telah membuat anak laki-laki itu hancur  merasakan patah hati yang sangat dalam sangat mengkristal sepeti debu. Lalu dalam sebuah ikrar kesan yang dibuat teman-teman dari anak laki-laki itu, anak laki-laki itu menuliskan sebuah kata yang menggambarkan kenyataan perasaannya. “terimakasih semuanya, terimakasih sudah menemani kegiatan selama 4 hari ini, 4 hari yang bikin galau, dan penuh kelemahan seorang anak laki-laki yang bernama ****”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar